Home

Lenght : Series

Genre : Mistery – Romance – Humor – Sad.

Cast : Annete Jane Ming – Park Chanyeol – Sehun

 

“Apa yang kau lakukan disini? Ketua memanggilmu untuk menghadap.” Ujar salah satu di antara tiga mahluk berdarah dingin itu.

Chanyeol memasang wajah ketakutan, berpura-pura agar Jane yang kemungkinan melihatnya di seberang sana tidak merasa heran jika ia santai saja ketika bahaya mendekat. “Baiklah, aku akan segera datang. Pergi saja, aku akan menyusul kalian.” Jawab Chanyeol.

“Huh! Ada apa dengan wajah takutmu, kau bertingkah seperti manusia.” Vampire yang menggunakan jaket berbulu itu tersenyum kecut.

“Kalian terlalu banyak mengurusku, lebih baik pergi saja, dan katakan pada Ketua aku akan segera menghadap.” Ujar Chanyeol sambil memundurkan kaki beberapa langkah ke belakang.

Mendapatkan perintah dari atasan mereka, merekapun segera melesat pergi. Dan Chanyeol langsung berpura-pura bersandar lemah di batang pohon.

“Untuk apa mereka menemui Chanyeol? Ada urusan apa Chanyeol dengan ketua mereka?” Bathin Jane. Jane memperhatikan baik-baik gerak-gerik Chanyeol, ia bahkan mendengar semua percakapan tadi. Agak aneh jika ketiga Vampire itu melepaskan manusia buruannya. Kecuali jika Chanyeol adalah bagian dari Klan mereka, atau mereka sedang memamfaatkan Chanyeol untuk suatu hal. Muncul rasa ingin tahu dalam hati Jane tentang siapa Chanyeol sebenarnya. Manusia satu itu memang sungguh aneh di mata Jane. Tak tanpak ketakutan di matanya atas bahaya apapun yang sekiranya mendekat, Chanyeol bahkan menolong Ibu Ratu dari maut dengan cara yang tidak mungkin bisa di lakukan oleh manusia biasa. Lagipula ia sering bertemu dengan Chanyeol di berbagai tempat yang jarang di datangi manusia, seperti tengah hutan lebat, dan dipegunungan seperti ini. Jika Chanyeol adalah sosok Vampire, mengapa Jane tidak mampu mendeteksinya? Padahal ia memeiliki kekuatan untuk mendeteksi Vampire meskipun mereka dalam keadaan menyamar sekalipun.

Entahlah. Jane tidak ingin terlalu banyak memikirkan tentang sosok laki-laki berkulit putih itu, lagipula laki-laki itu sama sekali tidak berguna bagi Jane. Janepun segera pergi.

***

Salju turun seperti kapas-kapas kecil yang berterbangan, tidak seperti kemarin salju turun deras seperti hujan. Karenanya Jane lebih memilih untuk keluar berjalan-jalan di dalam taman belakang Istana, disana ada banyak macam bunga yang di tanam oleh dirinya sendiri semenjak masih kecil.  Kegemarannya dalam menanam bunga membuahkan hasil. Taman yang ia buat sendiri menjadi taman terindah di istana, ratusan macam bunga tumbuh subur disana. Jane punya alasan sendiri kenapa ia suka menanam bunga, menurutnya wangi bunga dapat menghalau wangi darah pemburu yang ada di dalam jiwanya. Kecantikan bunga dapat menyembunyikan keganasan yang ada dalam dirinya, dan seorang wanita yang menyukai bunga dalam pandangan semua orang adalah wanita yang lembut dan anggun. Semua itu berarti adalah alasan Jane hanya untuk menyembunyikan jati dirinya yang sebenarnya.

Jane sedikit menunduk mengibas salju yang jatuh di atas kelopak bunga mawar hitam kesukaannya, meskipun semua bunga-bunganya di berikan atap, tapi setangkai bunga mawar hitam yang menjuntai keluar terlihat bergoyang lemah di jatuhi salju.

“Putri. Anak Perdana Menteri, Sehun ingin bertemu dengan Anda.“ Kata seorang pelayan wanita yang datang menghampirinya.

“Baiklah. Katakan padanya untuk datang menemuiku disini.“ Jawab Jane memberikan izin.

Pelayan itupun pergi menyampaikan pada Sehun bahwa Putri Jane mempersilahkannya untuk memnemui Putri ditaman. Sehun yang sudah menununggu di gerbang taman segera masuk ke dalam dan menemui Jane.

“Ilyehamnida(Permisi). Kenapa kau disini? Diluar  sangat dingin.“ Sapa Sehun yang berdiri di belakang Jane yang sedang membungkuk menyentuh bunga-bunga miliknya.

Jane menegakkan badan dan membalikkan badan menghadap Sehun. “Aku sudah lama tidak mengunjungi mereka.“ Tunjuk Jane pada bunga-bunganya. Memang sudah beberapa hari sejak Jane melakukan liburan musim dingin dengan Ibunda Ratu ke luar istana, ia sama sekali tidak pernah mengunjungi bunga-bunganya lagi. Biasanya ia akan menghabiskan hari-harinya untuk sekedar bersantai disini. “Ada perlu apa kau menemuiku anak Perdana Menteri. Ada yang ingin kau sampaikan padaku?“ Tanya Jane menanyakan maksud kedatangan Sehun.

Sehun menggeleng pelan. “Animidha. Aku juga sudah lama tidak melihatmu, jadi aku berniat datang menemuimu. Oiya bagaimana dengan liburan musim dinginmu bersama Ibunda Ratu? Apakah menyenangkan?“ Tanya Sehun mencari bahan pembicaraan, sebenarnya Ia bingung tidak tahu harus mengatakan apa pada sosok Putri yang baru di kenalnya dalam beberapa tahun ini, tepatnya sewaktu di adakannya pesta rakyat. Putri mahkota harus di arak keliling desa menggunakan kuda yang di hias sekemikian rupa. Sebagai bentuk kepedulian sang Putri pada rakyatnya. Ktika itu Sehunlah yang memegang kendali kudanya menuntun Putri.

“Nhe. Lumyan.“ Jawab Jane seadanya. “Oiya, ada sesuatu yang ingin aku berikan untukmu. Sebenarnya aku ingin memberikanmu langsung kemarin, tapi Perdana Menteri bilang bahwa kau  sedang berada di luar Istana karena sebuah urusan.“

“Igeoseun mu-eosimnikka?(apa ini ?)“ Sehun menerima sebuah kotak dari tangan Jane kemudian membukanya. “Berlian biru ? Bukankah ini benda yang paling langka di dunia?“ Sehun sangat terkejut begitu melihan batu berharga yang menyala di depan matanya.

“Nhe, itu peninggalan Ayahku yang paling berharga, dan Ibu ingin kau meilikinya karna sebentar lagi kau yang akan melanjutkan pemerintahan di kerajaan ini.“ Tutur Jane.

“Aku merasa kurang pantas menerima penghargaan sebesar ini, tapi aku tidak mungkin menolak pemberianmu Putri.“ Sahut Sehun dengan ragu-ragu. Tangannya gemetaran kecil memegang berlian yang berbentuk matahari yang telah dijadikan mata kalung.

“Lalu, apakah kau benar-benar akan menikahiku?“ Tanya Jane blak-blakan.

Sehun terkejut lagi mendengar pertanyaan Jane. “Kenapa kau menanyakan hal semacam itu Putri setelah semuanya berjalan sejauh ini. Karena ini sebuah kesepakatan bersama, maka aku tidak bisa menolak untuk menikah denganmu. Apakah kau sendiri ragu-ragu dengan keputusan ini? “

Jane mulai berjalan untuk mengitari taman, Sehun menyusul di sebelahnya. “Anhimida. Aku hanya penasaran saja apakah kau menerimanya karna perjodohan kita saja, atau mungkin ada hal lain? Seperti…. Kau berambisi menjadi Raja, atau mungkin karna kau mencintaiku? Yang mana yang benar?“ Jane menundukkan pandangannya, canggung rasanya untuk mengatakan hal semacam itu, sejujurnya ia ingin Sehun mengatakan alasan mengapa dia mau menikahinya. Jane takut jika nanti setelah menikah Sehun akan menyesal karna bagaimanapun mereka dalam keadaan berbeda meskipun sama.

“Putri. Apa kau sedang tidak percaya diri?“ Sehun menatap mahkota indah yang melingkari kepala Jane, rambut yang terurai di bawahnya sangat indah melebihi pelangi.

Perkataan Sehun sontak membuat Jane mengangkat kepalanya, pertanyaan itu telak mengenai hatinya. Ia memang sedang tidak percaya diri, terlalu banyak hal yang ia hawatirkan, ia sendiri tidak menerima keadaannya, terlahir sebagai mahluk mengerikan, dan membuatnya tidak bisa menikmati hidup  normal seperti manusia adanya. Lalu bagaimana mungkin orang lain akan menerima dirinya.

“Kenapa kau memastikan bahwa aku mencintaimu atau tidak Putri? Jawaban seperti apa yang kau inginkan? Aku pasti akan menjawabnya sesuai dengan keinginannmu itu Putri.“ Sehun mendang wajah Jane yang putih memucat..

Jane menelan ludah lalu memalingkan pandangannya. “Temui aku di hutan nanti malam, dan juga pastikan kau datang sendiri, jangan biarkan siapapun mengikutimu atau mengetahui kepergianmu.“ Ujar Jane.

“Dwaesseumnida(baiklah), Aku akan menemuimu sesuai dengan keinginanmu.“ Jawab Sehun bersedia.

“Apakah karna aku seorang Putri kau ta’at saja pada keinginnanku? Bagaimana jika kau harus merelakan nyawamu hilang di hutan itu sebelum bisa menemuiku. Apakah tidak ada pertimbangan sedikitpun? Apakah kau juga tidak penasaran kenapa aku mengajakmu ke hutan? Bukan ke suatu tempat yang indah bagi dua orang yang akan menikah.“

“Bagaiamana mungkin aku akan takut Putri, bukankah kau mengatakan bahwa kau akan menungguku disana? Itu artinya aku tidak sendirikan?“

“Jadi kau mengandalkanku?”

“Jika Putri berani ke hutan itu sendirian, bagaimana aku tidak berani?”

Jane diam, Sehun tahu saja perkataan yang tepat untuk menjawab ucapannya. Jane menjadi salah tingkah dengan memeluk tubuhnya seperti orang yang sedang kedinginan. Meihat itu Sehun menyangka Jane sedang kedinginan, karena Jane hanya memekai gaun tanpa baju hangat. Sehunpun membuka jaket Woll yang pakainya, kemudian mengenakannya di tubuh Jane. Jantung Jane berdetak perlahan menerima perlakuan seperti itu, sebentar saja rasa hawatirnya mencair seperti salju yang terkena cahaya lilin.

***

Seperi yang di minta Jane, Sehun berangkat ke hutan sendiri dengan berjalan kaki dan mengendap-endap agar tidak diketahui keluarga kerajaan. Ia melangkah pasti menuju hutan dalam gelapnya malam, ia hawatir Jane akan menunggu lama disana. Hanya bergantung pada cahaya remang dari gugusan jutaan bintang di atas sana, Sehun mulai memasuki hutan.  ada rasa-rasa dAngin yang sangat dingin mulai menyambut kedatangannya, suara burung hantu membuat malam menjadi mencekam. Suara-suara lembut para penghuni hutan menusuk gendang telinganya seakan memaksanya untuk mundur.  Perasaan aneh mulai menyusup ke dalam  hatinya, tapi tak meragukan langkahnya untuk terus memasuki hutan. Ia tidak tahu keberadaan Jane ada disebelah mana, tapi ia yakin bahwa Jane akan ada di tempat perkemahan yang biasa tempatnya berburu, letaknya memang agak jauh di tengah hutan.

Suara gemerisik terdengar dari arah depan, Sehun mulai merasa takut, bisa saja itu adalah binatang buas yang mulai mendekat. Sekarang ia sedang tidak membawa satupun benda pelindung. Sehun memeberhentikan langkahnya, diam-diam ia memperhatikan pergerakan aneh yang semakain lama semakin terasa mendekatinya, meskipun begitu ia tidak mencoba untuk berlari, ia harus menemui Jane apapun yang terjadi.

Jarak satu meter, binatang itu keluar dari persembunyiannya dan menampakkan dirinya di depan Sehun, matanya sedikit terlihat menyala di tengah gelap malam, mungkin itu sinar alami yang dimilikinya. Sehun memundurkan diri beberapa langkah untuk mewanti-wanti, Serigala  yang ada di depannya ini sepertinya sudah siap untuk menerkamnya menjadi menu makan malam yang lezat. Serigala itu tidak membutuhkan waktu lebih lama lagi untuk menyerangnya, kakinya bergerak bersamaan dengan pandangan matanya yang tajam menatap Sehun. Sehun mengambil potongan kayu yang ada di dekatnya, meskipun ia berlari tidak ada gunanya, karna seekor Serigala larinya lebih cepat dari kecepatan manusia biasa. Jalan satu-satunya adalah harus menghadapinya sampai ia mati atau Serigala itu yang mati. Dengan sigap Sehun mulai berlari maju bersamaan dengan laju Serigala itu untuk bertarung, di saat Serigala itu membuka mulutnya yang bertaring tajam dan mengangkat cakar-cakarnya yang kuat untuk menerjang tubuh Sehun, tiba-tiba saja sosok aneh muncul seperti kilat dan langsung menghadang Serigala itu yang sedikit lagi hampir melukai Sehun. Mereka berdua bergulat seperti petarung hebat, namun sebentar saja Serigala itu lansung lemas di buatnya. Meskipun begitu sosok itu masih terlihat memeluk tubuh binatang malang itu dan wajahnya menempel pada leher Serigala itu.

“Siapa kau?“ Tanya Sehun rada-rada takut.

Jane bangkit lalu  mengusap darah yang masih menetes di sudut bibirnya, matanya menyala memerah, ia menatap Sehun lekat-lekat.

Seketika angin terasa berhenti berhembus, namun kegelapan sedikit demi sedkit menghilang dari pandangan Sehun sehingga menampakkan sosok jelas yang sedang berdiri di hadapannya. “Jane?”

***Next to chapter 3

 

Iklan

Mohon berikan komentarmu kawan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s